Sunday, March 26, 2017

Menikmati Learning Procces Dan Berharap Pada Hal-hal Yang Nyata



Apa Cita-cita anda waktu kecil?
Apa yang anda usahakan untuk mewujudkannya?
Terwujudkah cita-cita itu?
Anda punya keinginan?
Apa yang anda lakukan untuk mewujudkannya?
Jadi Nyatakah keinginan itu?

Alkisah, ada seorang lelaki pengelana  dari negeri antah berantah,datang ke kota hendak mengadu nasib. Dilihatnya hiruk-pikuk kehidupan kota yang  glamour. Orang-orang kaya bermobil tumpah ruah di jalan raya. Perempuan-perempuan sosialita bergaya dengan pakaian mahal dan dandanan menor . Tak ketinggalan para remaja dari keluarga berduit pamer Gadget dengan segala aktifitasnya.

Terbayang dalam fikir sang pengelana, di sana, di kampungnya, ia hidup dalam kemiskinan. Tempat tinggal kumuh dari gubug reyot, bersama istri dan tiga anaknya. Sandang papan tak memadahi, makan hanya bisa sehari sekali. “andai saja aku bisa seperti mereka”, gumannya sambil membandingkan apa yang dilihatnya dengan keadaan keluarga di kampungnya. Keinginannya terus menggebu, berharap dapat sesuatu, lalu timbul hasrat melakukan kejahatan.

Tiba-tiba, seorang  perempuan muda berteriak, “mailing.. maliiing..copet.. jambreet!” Serta merta semua orang yang ada di tempat itu menoleh. Mereka melihat seorang lelaki kumuh berlari menembus padatnya lalu lintas sambil membawa sesuatu. Orang-orang berlarian, mengejar, mengepung, dan menangkap laki-laki itu dengan barang bukti sebuah tas di tangan. Pukulan bertubi-tubi, tendangan keras, serta hantaman batu bersarang, lalu lelaki itu tewas mengenaskan.

Ada seorang pedagang siomay, hidup dalam kesederhanaan. Satu istri dengan tiga orang anak sungguh sebuah beban. Tapi ia yakin, rejeki sudah ada yang mengatur. Semuanya sudah diukur secara  teratur. Rupiah demi rupiah yang ia dapatkan, tak semuanya dibelanjakan. Istrinya sangat pintar memanagement keuangan. Bahkan bisa menghitung pengeluaran. Kapan makan dengan sayur bayam dan kapan bisa makan pakai lauk ayam. Tak berapa lama berselang, motor baru datang. Sebagai hasil jerih payah yang ia usahakan. Lalu usahanya mulai berkembang. Anak buahnya berkeliling menjajakan dagangan, sementara si Bos di rumah menghitung uang dan merencanakan  perjalanan.

Sungguh ini dua kisah yang inspiratif.  Lelaki pengelana  ingin  mendapatkan sesuatu dengan cara instan. Pedagang siomay menjalani proses kehidupan sesuai yang ditetapkan.

Hari ini, Jutaan publisher adsense di youtube dan blog. Setiap hari ingin ada peningkatan pendapatan. Bagi yang memahami pentingnya sebuah proses, mereka akan lakukan sesuatu sebagaimana yang telah ditentukan. Tunduk pada TOS dan peraturan google dan berusaha  untuk tidak melanggar. Sehari, seminggu, sebulan, setahun, bahkan sampai  beberapa tahun mereka menunggu sampai saat yang ditentukan tiba. Menerima konfirmasi pin lewat surat google untuk gajian. Mereka share keberhasilan di media sosial sebagai bentuk berbagi semangat kepada yang belum dapat. Agar para generasi berikutnya mau mencontoh supaya bisa mendapatkan gaji seperti mereka.

Orang-orang baru, datang dari berbagai penjuru. Ikut bersatu padu dalam membangun komunitas. Yang cepat  faham akan segera meniru  dan mencontoh para senior. Mereka belajar menyerap teori dan mempraktekkan. Orang-orang baru yang buru-buru dan penuh nafsu, berlomba seperti kesetanan. Mengejar target yang tak mungkin didapatkan. Lalu mereka  mengambil jalan pintas. Melakukan kecurangan dan berbuat culas.  Ujung-ujungnya, bukan keberhasilan yang mereka dapatkan, tapi malah akun yang ditangguhkan.

Learning Procces  memang hal yang baku. Belajar demi setahap, dan mendapatkan hasil sesuai kapasitas dan kemampuan yang dimilki. Orang-orang baru memang seperti burung gereja. Telornya kecil tiada terkira. Telor kecil burung kecil itu yang biasa. Tapi kalau burung gereja ingin mengeluarkan telor milik angsa, maka akan rusak segalanya.
Memang semua butuh proses. Orang-orang makan sesuap-demi sesuap. Anak-anak sekolah dari tingkat paling bawah. TK-SD-SMP-SMA-Kuliah, kemudian baru bekerja. Orang-orang yang sama sekali tidak sekolah, tapi ingin mendapatkan fasilitas sebagaimana orang yang sekolah, akan berbuat kecurangan dengan menjual harga diri. Mereka membeli ijazah dari para penjahat. Mengaku lulusan perguruan tinggi tertentu. Lalu mereka berusaha menipu Negara, menipu kita dan menipu diri mereka sendiri. Banyak Pejabat yang akhirnya diciduk polisi karena menggunakan ijasah palsu.

Kembali pada blogger dan youtuber. Dunia ini  jelas tidak ada yang instan. Mie instan pun diproses dengan waktu yang lama. Belajar dari bawah itu akan menciptakan sebuah karakter. Menulis dengan hasil karya sendiri dan membuat video ori, akan menciptakan karakter pembuat konten yang sangat disukai pemirsa. Sebagaimana sebuah produk, bila anda membuatnya sendiri maka akan muncul differensiasi  atau ciri khas produk. Sedangkan  produk bajakan tak akan membuat anda menjadi besar.
Mulai sekarang berusahalah membuat karya yang ori, sebagai wujud penghargaan kita pada karya orang lain. Andaikan anda mau mengambil pokok pikirannya, lakukan dengan sewajarnya. 

Dan bila anda bisa mengemasnya dengan lebih baik, produk dan karya anda akan semakin berkualitas dan diakui  dunia.  Terima Kasih Sudah Membaca.. dan Jayalah Blogger dan Youtuber Indonesia


2 comments

ya kadang kita tidak sadar pilih yang bajakan, soalnya telornya kecil kayak burung gereja,


EmoticonEmoticon