Apa Cita-cita anda waktu kecil?
Apa yang anda usahakan untuk mewujudkannya?
Terwujudkah cita-cita itu?
Anda punya keinginan?
Apa yang anda lakukan untuk mewujudkannya?
Jadi Nyatakah keinginan itu?
Alkisah, ada seorang lelaki pengelana dari negeri antah berantah,datang ke kota
hendak mengadu nasib. Dilihatnya hiruk-pikuk kehidupan kota yang glamour. Orang-orang kaya bermobil tumpah
ruah di jalan raya. Perempuan-perempuan sosialita bergaya dengan pakaian mahal
dan dandanan menor . Tak ketinggalan para remaja dari keluarga berduit pamer
Gadget dengan segala aktifitasnya.
Terbayang dalam fikir sang pengelana, di sana, di kampungnya,
ia hidup dalam kemiskinan. Tempat tinggal kumuh dari gubug reyot, bersama istri
dan tiga anaknya. Sandang papan tak memadahi, makan hanya bisa sehari sekali. “andai saja aku bisa seperti mereka”,
gumannya sambil membandingkan apa yang dilihatnya dengan keadaan keluarga di
kampungnya. Keinginannya terus menggebu, berharap dapat sesuatu, lalu timbul
hasrat melakukan kejahatan.
Tiba-tiba, seorang perempuan muda berteriak, “mailing.. maliiing..copet.. jambreet!” Serta merta semua orang yang
ada di tempat itu menoleh. Mereka melihat seorang lelaki kumuh berlari
menembus padatnya lalu lintas sambil membawa sesuatu. Orang-orang berlarian,
mengejar, mengepung, dan menangkap laki-laki itu dengan barang bukti sebuah tas
di tangan. Pukulan bertubi-tubi, tendangan keras, serta hantaman batu
bersarang, lalu lelaki itu tewas mengenaskan.
Ada seorang pedagang siomay, hidup dalam kesederhanaan. Satu
istri dengan tiga orang anak sungguh sebuah beban. Tapi ia yakin, rejeki sudah
ada yang mengatur. Semuanya sudah diukur secara
teratur. Rupiah demi rupiah yang ia dapatkan, tak semuanya dibelanjakan.
Istrinya sangat pintar memanagement keuangan. Bahkan bisa menghitung
pengeluaran. Kapan makan dengan sayur bayam dan kapan bisa makan pakai lauk
ayam. Tak berapa lama berselang, motor baru datang. Sebagai hasil jerih payah
yang ia usahakan. Lalu usahanya mulai berkembang. Anak buahnya berkeliling
menjajakan dagangan, sementara si Bos di rumah menghitung uang dan
merencanakan perjalanan.
Sungguh ini dua kisah yang inspiratif. Lelaki pengelana ingin
mendapatkan sesuatu dengan cara instan. Pedagang siomay menjalani proses
kehidupan sesuai yang ditetapkan.
Hari ini, Jutaan publisher adsense di youtube dan blog.
Setiap hari ingin ada peningkatan pendapatan. Bagi yang memahami pentingnya
sebuah proses, mereka akan lakukan sesuatu sebagaimana yang telah ditentukan.
Tunduk pada TOS dan peraturan google dan berusaha untuk tidak melanggar. Sehari, seminggu,
sebulan, setahun, bahkan sampai beberapa
tahun mereka menunggu sampai saat yang ditentukan tiba. Menerima konfirmasi pin
lewat surat google untuk gajian. Mereka share keberhasilan di media sosial
sebagai bentuk berbagi semangat kepada yang belum dapat. Agar para generasi
berikutnya mau mencontoh supaya bisa mendapatkan gaji seperti mereka.
Orang-orang baru, datang dari berbagai penjuru. Ikut bersatu
padu dalam membangun komunitas. Yang cepat
faham akan segera meniru dan
mencontoh para senior. Mereka belajar menyerap teori dan mempraktekkan.
Orang-orang baru yang buru-buru dan penuh nafsu, berlomba seperti kesetanan. Mengejar
target yang tak mungkin didapatkan. Lalu mereka
mengambil jalan pintas. Melakukan kecurangan dan berbuat culas. Ujung-ujungnya, bukan keberhasilan yang
mereka dapatkan, tapi malah akun yang ditangguhkan.
Learning Procces
memang hal yang baku. Belajar demi setahap, dan mendapatkan hasil sesuai
kapasitas dan kemampuan yang dimilki. Orang-orang baru memang seperti burung
gereja. Telornya kecil tiada terkira. Telor kecil burung kecil itu yang biasa.
Tapi kalau burung gereja ingin mengeluarkan telor milik angsa, maka akan rusak
segalanya.
Memang semua butuh proses. Orang-orang makan sesuap-demi
sesuap. Anak-anak sekolah dari tingkat paling bawah. TK-SD-SMP-SMA-Kuliah,
kemudian baru bekerja. Orang-orang yang sama sekali tidak sekolah, tapi ingin
mendapatkan fasilitas sebagaimana orang yang sekolah, akan berbuat kecurangan
dengan menjual harga diri. Mereka membeli ijazah dari para penjahat. Mengaku
lulusan perguruan tinggi tertentu. Lalu mereka berusaha menipu Negara, menipu
kita dan menipu diri mereka sendiri. Banyak Pejabat yang akhirnya diciduk
polisi karena menggunakan ijasah palsu.
Kembali pada blogger dan youtuber. Dunia ini jelas tidak ada yang instan. Mie instan pun diproses
dengan waktu yang lama. Belajar dari bawah itu akan menciptakan sebuah
karakter. Menulis dengan hasil karya sendiri dan membuat video ori, akan
menciptakan karakter pembuat konten yang sangat disukai pemirsa. Sebagaimana sebuah
produk, bila anda membuatnya sendiri maka akan muncul differensiasi atau ciri khas
produk. Sedangkan produk bajakan tak
akan membuat anda menjadi besar.
Mulai sekarang berusahalah membuat karya yang ori, sebagai
wujud penghargaan kita pada karya orang lain. Andaikan anda mau mengambil pokok
pikirannya, lakukan dengan sewajarnya.
Dan bila anda bisa mengemasnya dengan
lebih baik, produk dan karya anda akan semakin berkualitas dan diakui dunia. Terima Kasih Sudah Membaca.. dan Jayalah Blogger dan Youtuber Indonesia
2 comments
ya kadang kita tidak sadar pilih yang bajakan, soalnya telornya kecil kayak burung gereja,
kui jenenge nafsu
EmoticonEmoticon